“Mengapa gelar-gelar akademis mesti dipakai?” Dalam
konteks Indonesia, pertanyaan ini logis. Saya lihat bahkan teman-teman yang tak
bergelar pun terkadang memakai gelar di kartu namanya. Akan tetapi apabila kita
mencoba berada dalam posisi netral, berusaha untuk tidak dipengaruhi suatu tren
di sekitar kita, pertanyaan itu sendiri terdengar tidak wajar.
Mengapa musti ditempelkan di nama kita di setiap waktu? Bukankah gelar akademis hanyalah tanda bahwa kita sudah menyelesaikan suatu studi tertentu? Mengapa kita mesti memakainya dalam suatu aktifitias di mana gelar itu tidak diperlukan?
Mengapa musti ditempelkan di nama kita di setiap waktu? Bukankah gelar akademis hanyalah tanda bahwa kita sudah menyelesaikan suatu studi tertentu? Mengapa kita mesti memakainya dalam suatu aktifitias di mana gelar itu tidak diperlukan?
Seorang sarjana hukum yang
menjadi pengacara, hakim atau jaksa atau dosen tentu
perlu memakai gelar SH atau M.hum-nya saat dia bertugas di bidang hukum.
Tetapi, jelas gelar itu tak perlu dipakai ketika dia sedang menyanyi karaoke di
suatu klab malam; atau sedang menduduki jabatan yang tak ada kaitannya dengan
bidang hukum. Seorang Camat, Bupati atau Gubernur tak perlu memasang gelarnya,
baik gelar asli apalagi siluman, karena yang diperlukan seorang Camat, Bupati dan
Gubernur bukan deretan gelar tapi kebijakan yang jelas, pro rakyat dan
ketegasan dalam bertindak termasuk dalam menanggulangi korupsi.
Seorang insinyur konstruksi
tentu perlu memakai gelarnya saat melamar kerja di bidang tersebut. Tetapi apa
relevansinya gelar ST apabila dia sedang melangsungkan resepsi pernikahan? Kita
sering membaca / melihat di kartu undangan seperti ini:
Kami mengundang Bapak/Ibu/Sdr pada
pernikahan putra/putri kami
Drs Siala, MA, Mhum, St
dengan
Dra Kuntilanakwati SE,
Di sisi lain, saya lebih suka
kalau orang mengambil kesimpulan dari hasil karyanya bahwa ia berhak menyandang
suatu gelar tertentu daripada ia memakai suatu gelar tapi dipertanyakan banyak
orang. Untuk apa gelar akademis kalau kita bukan dari golongan akademisi kredibel?
Kepakaran tidak identik dengan
gelar. Gelar bisa menjadi jalan menuju expertise di suatu bidang
walaupun itu bukan jaminan. Artinya, tanpa sekolah formal pun orang bisa
menjadi pakar di bidang yang ditekuninya. Gus Dur, Emha Ainun Najib, Goenawan
Mohamad, untuk menyebut beberapa.
Jadi, mengapa kita mesti
tergila-gila memasang gelar-gelar kita kalau kita tidak pakar? Malu, kan? Dan
bagi seorang pakar, mengapa perlu menempelkan gelar yang umumnya dipakai oleh
kalangan sarjana yang tidak pede akan kemampuannya?
Bagi saya kredibilitas
kepribadian dan akademis saya terletak bukan pada apakah saya memasang
deretan gelar di belakang dan depan nama saya; tapi pada apa yang sedang dan
sudah saya lakukan pada orang lain di satu sisi dan pada sejauh apa karya
(tulis) saya dapat mempengaruhi pola pikir masyarakat yang membacanya.
Teman saya yang sedang bertamu
tersebut cuma melongo mendengar “khotbah” saya yang menderu-deru. Mungkin itu
hal baru bagi dia. Tapi saya yakin logika dan sikap saya bukan hal baru bagi
Anda.


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact