Minggu, 22 Februari 2015 0 komentar

(Sinopsis) Sebuah Karya : "Ibu, Maaf saya belum wisuda"

Tak Terasa hari terus berlalu dan telah kuhabiskan waktu selama sepuluh semester untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi negeri di sebuah kota besar. Teman-teman seperjuangan telah berhasil menyelesaikan studinya. Malam terasa sepi, tak sedikit pula rasa bersalah pun terus menghantui. Dalam tidur selalu saja memimpikan wajah seorang perempuan yang telah membesarkanku. Dia seorang ibu. Suaranya terngiang di telinganya, raut wajahnya tersenyum dan mengarah kepadaku, sepertinya ingin menyampaikan sesuatu, begitulah gumamnya didalam mimpiku.
Di usiaku yang semakin bertambah, aku mengingat kenangan di masa dulu, sang ibu selalu dengan bangga membawa janinku selama sembilan bulan. Tatkala kupijakkan kakiku didunia, sang ibu dengan penuh kasih sayang menggendongku, merawatku, bahkan merelakan waktu dan tenaganya.
Inginku membalas jasa sang ibu, dengan menjejalkan langkah dari rumah, memantapkan hati berbekal restu darinya merantau ke negeri orang dengan tujuan menuntut ilmu. Ingin rasanya akau menunjukkan, “bu, ini anakmu sudah sarjana”.
Namun dinegeri orang ini aku merasa sangat kesepian, tak ada tempat untuk mengadu dikarenakan semua orang sibuk dengan urusan sendiri. Hari-hari yang sulit dijalani dengan suka cita, tanpa kasih seorang ibu.
Pagi hari disaat tubuh ini belum mampu untu digerakkan aku bangkit menelusuri jalanan sambil berdesakan di tengah keramaian kota bersama dengan para mahasiswa lain. Akhirnya kulewati hari itu dengan lancar, pulang dari kuliah aku membawa pulang ilmu dengan rasa bangga telah melawan rasa malas. Berbekal tekad yang kuat serta doa dari seorang ibu bagaimanapun kesulitan hidup di negeri orang, aku bisa mencapi cita-cita mulia.
Dalam benakku ingin sekali kutunjukkan kepada ibu bahwa diriku telah menjadi sarjana. Seraya sang ibu menunjuk aku, bahwa yang menggunakan toga itu adalah anakku. Sambil bangga menunjukkan kepada teman lainnya.
Mungkin hanya kata maaf yang bisa ku persembahkan kepada sang ibu agar sedia mengampui dosaku.  Sambil menyalami tangan sang ibu yang belum bisa membuatnya bahagia. Ucapan maaf Cuma itulah kata yang bisa ku ucapkan, mengingat diriku sampai saat ini belum menjadi seorang sarjana.



Kamis, 19 Februari 2015 0 komentar

Hujan di Hari jumat : Sebuah Berkah

 

Hari jumat bagi segelintir orang mungkin tak ada bedanya dengan hari sibuk biasa, bedanya di hari inilah aktifitas akan berakhir menuju rehat di hari libur. dapat dengan mudah disaksikan, orang menutup hari ini penuh dengan semangat adapula yang mulai menonjolkan kemalasan dengan asumsi bahwa jumat itu sebenarnya adalah waktu libur.

Berbeda halnya dengan kaum muslim, jum'at adalah sebuah berkah yang tak terkira. disinilah banyak peristiwa terjadi yang menentukan digelorakannya islam sampai sekarang ini. kurang lebih 2 milyard masyarakat muslim akan menghabiskan waktunya di masjid ketika matahari sudah berada tepat diatas kita. Bukan hanya sekedar berkumpul melainkan menghabiskan waktu untuk melakukan yang terbaik, demi satu tujuan yaitu penyembahan terhadap sang pencipta.

tetapi ada yang berbeda dengan jum'at (20 februari 2014) kali ini, kota makassar diguyur hujan semenjak subuh sampai menjelang jumat. Uniknya tak satupun kutemukan orang berharap hujan untuk reda.
semenjak saya bahagia, bahwa semuanya memahami bahwa hujan adalah salah satu anugerah, meskipun disatu sisi hujan dapat pula menjadi musibah(teguran). Selama 15 menit kuhabiskan waktu berpikir sembari mencari peluang di lebatnya hujan untuk berlari menuju ke masjid, disampingku tanpa kusadari hadir sosok bertubuh gempal, mukanya terasa tidak asing bagiku menyapaku akrab. beberapa kali dia bertanya dan kujawab seadanya karena pikiranku hanya fokus mencari celah agar bisa menuju ke masjid.

Di kejauhan kulihat, sekumpulan anak muda bercelana pendek dan bertelanjangkan dada berteriak kepadaku, "Hujan Bro, tidak usah meki pigi sholat, mengerti ji tuhan".
Diam....Hanya itu yang bisa kulakukan.
Sejenak ku berpikir, apakah memang Tuhan menurunkan hujan untuk menghalangi kita beribadah?
atau kah kita yang selalu mengalasankan hujan sebagai alasan, dan menjadikan kesalahan sebagai sebuah pemakluman.
tulisan ini bukan untuk mempublikasi tetntang ibadah, karena saya meyakini beribadah tidak butuh publikasi.
akan tetapi ini bisa menjadi perenungan bersama untuk menjadi lebih baik..
terima kasih..
0 komentar

Sebuah Catatan : Makassarku Tidak Aman, Dibalik Fenomena Gangster,

Untuk menjadi kota dunia salah satu syaratnya adalah memberikan rasa aman. apakah rasa aman itu sudah ada di kota Makassar?
ini hanyalah sebuah catatan atas kerisauan dan kepedulian terhadap kota ini. 


‪#‎MakassarkuTidakAman‬, Inilah topik yang beredar di dunia maya..mengesankan makassar sebagai pabrik produksi premanisme dan kriminal. yang membuat kita seolah lupa keindahan kota daeng, pantai losari bersama pisang epe'nya (baca:makanan khas makassar).

kota yang dikenal menjunjung tinggi budaya malu yang dibungkus dalam siri'na pacce.



Saling melempar kesalahan,
Ironis memang, tetapi inilah persoalan yang harus segera diselesaikan.
yang sulit ditangkap logikaku, beberapa pelaku adalah siswa dan remaja dibawah umur (baca:genk motor) yang melakukan tindakan kriminal, mulai dari perampokan bersenjata sampai pada pembunuhan yang beroperasi di malam hari.
Bersama Kopi, muncul beberapa pertanyaan dibenakku !!
Bukankah anak seumuran itu seharusnya menghabiskan waktu untuk mengerjakan tugas sekolah? 
bukankah pendidikan dasar mengajarkan kita untuk mempunyai karakter dan berbudi pekerti luhur?
Bagiku ada beberapa variabel yang menentukan perilaku remaja, 
mulai dari lingkungan keluarga sampai kepada lingkungan pergaulan.
idelalnya, keluarga sebagai tempat seorang anak untuk berbagi kasih dan bercengkrama kini mulai tergerus fungsinya. ini dapat dengan mudah dilihat melalui pola kehidupan modernisasi yang semakin merajalela. membuat anak semakin merasa sendiri dan merasa tidak memiliki sandaran untuk berbagi cerita terhadap orang yang terkasih akhirnya anak menganggap bahwa "kasih sayang" tidak ada lagi.
Dalam pembentukan tingkah laku lingkungan menempati peran penting dalam mempengaruhi pola dan tingkah laku anak.
mulai dari lingkungan sekolah sampai pada lingkungan bermain.
sekolah sebagai rumah ke-dua bagi seorang anak yang penuh dengan nuansa akademis dan bersahabat diharapkan mampu secara maksimal menekan perilaku kebablasan seorang anak,tetapi realitasberkata lain.
memang harus diakui rutinitas sekolah yang kurang kreatif dan variatif yang hanya menyajikan tugas, tugas dan tugas dapat dengan mudah memunculkan kejenuhan sehingga berefek kepada beberapa anak merasa bosan dan akan mencoba mencari lingkungan dan suasana yang baru. Secara psikologi, anak akan selalu mencoba melakukan sesuatu yang baru dan penuh tantangan demi terpenuhinya kebutuhan aktualisasi (pengakuan diri terhadapa orang lain). Ketika anak menganggap lingkungan sekolah tak mampu lagi memenuhi harapannya maka mereka akan mencoba melarikan diri mendekat terhadap lingkungan pergaulan yang menjajikan berjuta model tingkah laku dan kebiasaan.
beberapa anak mungkin akan menemukan lingkungan yang penuh dengan kehidupan ekstrem, berawal dari coba-coba maka selanjutnya akan menjadi rutinitas.
apakah ini adalah sinyal kuat yang menandakan bahwa Rasa cinta di keluarga memang sudah langka untuk ditemukan.
ataukah, memang pola pendidikan yang terus berubah sehingga maksimalisasi dari implementasinya sudah jauh dari hasil yang diharapkan. perlu evaluasi?atau tetap seperti ini...
terima kasih..

Pages

Labels

 
;