Kamis, 19 Februari 2015

Sebuah Catatan : Makassarku Tidak Aman, Dibalik Fenomena Gangster,

Untuk menjadi kota dunia salah satu syaratnya adalah memberikan rasa aman. apakah rasa aman itu sudah ada di kota Makassar?
ini hanyalah sebuah catatan atas kerisauan dan kepedulian terhadap kota ini. 


‪#‎MakassarkuTidakAman‬, Inilah topik yang beredar di dunia maya..mengesankan makassar sebagai pabrik produksi premanisme dan kriminal. yang membuat kita seolah lupa keindahan kota daeng, pantai losari bersama pisang epe'nya (baca:makanan khas makassar).

kota yang dikenal menjunjung tinggi budaya malu yang dibungkus dalam siri'na pacce.



Saling melempar kesalahan,
Ironis memang, tetapi inilah persoalan yang harus segera diselesaikan.
yang sulit ditangkap logikaku, beberapa pelaku adalah siswa dan remaja dibawah umur (baca:genk motor) yang melakukan tindakan kriminal, mulai dari perampokan bersenjata sampai pada pembunuhan yang beroperasi di malam hari.
Bersama Kopi, muncul beberapa pertanyaan dibenakku !!
Bukankah anak seumuran itu seharusnya menghabiskan waktu untuk mengerjakan tugas sekolah? 
bukankah pendidikan dasar mengajarkan kita untuk mempunyai karakter dan berbudi pekerti luhur?
Bagiku ada beberapa variabel yang menentukan perilaku remaja, 
mulai dari lingkungan keluarga sampai kepada lingkungan pergaulan.
idelalnya, keluarga sebagai tempat seorang anak untuk berbagi kasih dan bercengkrama kini mulai tergerus fungsinya. ini dapat dengan mudah dilihat melalui pola kehidupan modernisasi yang semakin merajalela. membuat anak semakin merasa sendiri dan merasa tidak memiliki sandaran untuk berbagi cerita terhadap orang yang terkasih akhirnya anak menganggap bahwa "kasih sayang" tidak ada lagi.
Dalam pembentukan tingkah laku lingkungan menempati peran penting dalam mempengaruhi pola dan tingkah laku anak.
mulai dari lingkungan sekolah sampai pada lingkungan bermain.
sekolah sebagai rumah ke-dua bagi seorang anak yang penuh dengan nuansa akademis dan bersahabat diharapkan mampu secara maksimal menekan perilaku kebablasan seorang anak,tetapi realitasberkata lain.
memang harus diakui rutinitas sekolah yang kurang kreatif dan variatif yang hanya menyajikan tugas, tugas dan tugas dapat dengan mudah memunculkan kejenuhan sehingga berefek kepada beberapa anak merasa bosan dan akan mencoba mencari lingkungan dan suasana yang baru. Secara psikologi, anak akan selalu mencoba melakukan sesuatu yang baru dan penuh tantangan demi terpenuhinya kebutuhan aktualisasi (pengakuan diri terhadapa orang lain). Ketika anak menganggap lingkungan sekolah tak mampu lagi memenuhi harapannya maka mereka akan mencoba melarikan diri mendekat terhadap lingkungan pergaulan yang menjajikan berjuta model tingkah laku dan kebiasaan.
beberapa anak mungkin akan menemukan lingkungan yang penuh dengan kehidupan ekstrem, berawal dari coba-coba maka selanjutnya akan menjadi rutinitas.
apakah ini adalah sinyal kuat yang menandakan bahwa Rasa cinta di keluarga memang sudah langka untuk ditemukan.
ataukah, memang pola pendidikan yang terus berubah sehingga maksimalisasi dari implementasinya sudah jauh dari hasil yang diharapkan. perlu evaluasi?atau tetap seperti ini...
terima kasih..

0 komentar:

Pages

Labels

 
;