Sabtu, 12 Maret 2016 0 komentar

Sebuah Catatan: Dibalik Fenomena Gelar Akademik

  

“Mengapa gelar-gelar akademis mesti dipakai?” Dalam konteks Indonesia, pertanyaan ini logis. Saya lihat bahkan teman-teman yang tak bergelar pun terkadang memakai gelar di kartu namanya. Akan tetapi apabila kita mencoba berada dalam posisi netral, berusaha untuk tidak dipengaruhi suatu tren di sekitar kita, pertanyaan itu sendiri terdengar tidak wajar.

Mengapa musti ditempelkan di nama kita di setiap waktu? Bukankah gelar akademis hanyalah tanda bahwa kita sudah menyelesaikan suatu studi tertentu? Mengapa kita mesti memakainya dalam suatu aktifitias di mana gelar itu tidak diperlukan?

Seorang sarjana hukum yang menjadi pengacara, hakim atau jaksa atau dosen tentu perlu memakai gelar SH atau M.hum-nya saat dia bertugas di bidang hukum. Tetapi, jelas gelar itu tak perlu dipakai ketika dia sedang menyanyi karaoke di suatu klab malam; atau sedang menduduki jabatan yang tak ada kaitannya dengan bidang hukum. Seorang Camat, Bupati atau Gubernur tak perlu memasang gelarnya, baik gelar asli apalagi siluman, karena yang diperlukan seorang Camat, Bupati dan Gubernur bukan deretan gelar tapi kebijakan yang jelas, pro rakyat dan ketegasan dalam bertindak termasuk dalam menanggulangi korupsi.

Seorang insinyur konstruksi tentu perlu memakai gelarnya saat melamar kerja di bidang tersebut. Tetapi apa relevansinya gelar ST apabila dia sedang melangsungkan resepsi pernikahan? Kita sering membaca / melihat di kartu undangan seperti ini:

Kami mengundang Bapak/Ibu/Sdr pada pernikahan putra/putri kami

Drs Siala, MA, Mhum, St
dengan
Dra Kuntilanakwati SE,

Di sisi lain, saya lebih suka kalau orang mengambil kesimpulan dari hasil karyanya bahwa ia berhak menyandang suatu gelar tertentu daripada ia memakai suatu gelar tapi dipertanyakan banyak orang. Untuk apa gelar akademis kalau kita bukan dari golongan akademisi kredibel?

Kepakaran tidak identik dengan gelar. Gelar bisa menjadi jalan menuju expertise di suatu bidang walaupun itu bukan jaminan. Artinya, tanpa sekolah formal pun orang bisa menjadi pakar di bidang yang ditekuninya. Gus Dur, Emha Ainun Najib, Goenawan Mohamad, untuk menyebut beberapa.
Jadi, mengapa kita mesti tergila-gila memasang gelar-gelar kita kalau kita tidak pakar? Malu, kan? Dan bagi seorang pakar, mengapa perlu menempelkan gelar yang umumnya dipakai oleh kalangan sarjana yang tidak pede akan kemampuannya?

Bagi saya kredibilitas kepribadian dan akademis saya terletak bukan pada apakah saya memasang deretan gelar di belakang dan depan nama saya; tapi pada apa yang sedang dan sudah saya lakukan pada orang lain di satu sisi dan pada sejauh apa karya (tulis) saya dapat mempengaruhi pola pikir masyarakat yang membacanya.

Teman saya yang sedang bertamu tersebut cuma melongo mendengar “khotbah” saya yang menderu-deru. Mungkin itu hal baru bagi dia. Tapi saya yakin logika dan sikap saya bukan hal baru bagi Anda.

Pages

Labels

 
;