Tak Terasa hari terus berlalu dan telah kuhabiskan waktu selama
sepuluh semester untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi negeri di
sebuah kota besar. Teman-teman seperjuangan telah berhasil menyelesaikan
studinya. Malam terasa sepi, tak sedikit pula rasa bersalah pun terus
menghantui. Dalam tidur selalu saja memimpikan wajah seorang perempuan yang telah
membesarkanku. Dia seorang ibu. Suaranya terngiang di telinganya, raut wajahnya
tersenyum dan mengarah kepadaku, sepertinya ingin menyampaikan sesuatu,
begitulah gumamnya didalam mimpiku.
Inginku membalas jasa sang ibu, dengan menjejalkan langkah dari
rumah, memantapkan hati berbekal restu darinya merantau ke negeri orang dengan
tujuan menuntut ilmu. Ingin rasanya akau menunjukkan, “bu, ini anakmu sudah
sarjana”.
Namun dinegeri orang ini aku merasa sangat kesepian, tak ada
tempat untuk mengadu dikarenakan semua orang sibuk dengan urusan sendiri.
Hari-hari yang sulit dijalani dengan suka cita, tanpa kasih seorang ibu.
Pagi hari disaat tubuh ini belum mampu untu digerakkan aku bangkit
menelusuri jalanan sambil berdesakan di tengah keramaian kota bersama dengan
para mahasiswa lain. Akhirnya kulewati hari itu dengan lancar, pulang dari
kuliah aku membawa pulang ilmu dengan rasa bangga telah melawan rasa malas. Berbekal
tekad yang kuat serta doa dari seorang ibu bagaimanapun kesulitan hidup di
negeri orang, aku bisa mencapi cita-cita mulia.
Dalam benakku ingin sekali kutunjukkan kepada ibu bahwa diriku
telah menjadi sarjana. Seraya sang ibu menunjuk aku, bahwa yang menggunakan
toga itu adalah anakku. Sambil bangga menunjukkan kepada teman lainnya.
Mungkin hanya kata maaf yang bisa ku persembahkan kepada sang ibu
agar sedia mengampui dosaku. Sambil
menyalami tangan sang ibu yang belum bisa membuatnya bahagia. Ucapan maaf Cuma itulah
kata yang bisa ku ucapkan, mengingat diriku sampai saat ini belum menjadi
seorang sarjana.

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact